ANALISIS GAYA BAHASA DALAM PUISI
CINTA
Karya : Kahlil Gibran
Mereka berkata tentang serigala dan tikus
Minum di sungai yang sama
Dimana singa melepas dahaga
Mereka berkata tentang helang dan hering
Menjunam paruhnya ke dalam bangkai yang sama
Dan berdamai diantara satu sama lain
Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu
Oh cinta, yang tangan lembutnya
Mengekang keinginanku
Meluapkan rasa lapar dan dahaga
Akan maruah dan kebanggaan
Jangan biarkan nafsu kuat terus menggangguku
Memakan roti dan meminum anggur
Menggoda diriku yang lemah ini
Biarkan rasa lapar menggigitku
Biarkan rasa haus membakarku
Biarkan aku mati dan binasa
Sebelum kuangkat tanganku
Untuk cangkir yang tidak kau isi
Dan mangkuk yang tidak kau berkati
Dalam puisi Kahlil Gibran
diatas terdapat beberapa gaya bahasa, diantaranya adalah:
a. Gaya Bahasa Asonansi
Gaya bahasa asonansi
adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama pada suatu kata atau
beberapa kata.
contohnya :
Biarkan rasa lapar menggigitku Biarkan rasa haus membakarku Biarkan aku mati dan
binasa
Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa
asonansi pada kata "biarkan". kata tersebut terjadi pengulangan bunyi
vokal yang sama.
b. Gaya bahasa Litotes
Gaya bahasa
litotes adalah mengecilkan atau mengurangi keadaan yang sebenarnya.
contohnya:
contohnya:
Menggoda diriku yang lemah ini
Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa
litotes yang mengecilkan keadaan yang lemah pada dirinya.
c. Gaya bahasa Personifikasi
Gaya bahasa
personifikasi yaitu gaya bahasa yang membuat suatu benda mati bertingkah
seperti manusia.
contohnya:
Dalam kehadiran bangkai-bangkai mati itu
Dari kutipan tersebut jelas terlihat bahwa bangkai-bangkai mati seakan-akan hidup seperti manusia.
Dari kutipan tersebut jelas terlihat bahwa bangkai-bangkai mati seakan-akan hidup seperti manusia.
d. Gaya bahasa Hiperbola
Gaya bahasa hiperbola
adalah gaya bahasa yang memberikan pernyataan yang berlebih-lebihan.
contoh:
Biarkan rasa haus membakarku
Biarkan rasa haus membakarku
Dari kutipan tersebut terdapat gaya bahasa
hiperbola pada kata rasa haus membakarku. pada kata haus membakarku terlalu
berlebihan, karena tidak ada rasa haus sampai membakar diri kita.